Postingan

Menampilkan postingan dengan label SINDO Sore

Sindo Edisi Sore-Opini Sore (26 Maret 2008)

Mengoreksi Globalisasi dan Pasar Bebas Oleh: KHAIRUNNISA MUSARI ’’...mekanisme pasar merupakan pelayan yang rajin bagi yang kaya, tetapi tak peduli pada yang miskin… mekanisme pasar mendorong perbuatan yang tidak bermoral, hal mana tidak hanya merupakan suatu kegagalan ekonomi, tetapi juga merupakan suatu kegagalan moral….’’ (Robert Heilbroner & Lester C Thurow, 1994). Menarik membaca artikel ’’Globalisasi dan Kepentingan Nasional’’ (SINDO, 5 Maret 2008) yang mempertanyakan mengapa perluasan pasar yang terjadi akibat liberalisasi dan integrasi antarnegara yang semakin meningkat kini digugat di sana-sini. Tampaknya, pertanyaan tersebut patut direnungkan para petinggi negeri ini. Mungkin benar yang disampaikan, bisa jadi banyak dari kita terobsesi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi, yang membutuhkan injeksi modal besar besaran sehingga modal asing harus dibuat tertarik untuk masuk. Mungkin juga benar, banyak dari kita mengikuti doktrin ekonomi yang keliru, yang oleh para e...

Sindo Edisi Sore - Opini Sore (10 Maret 2008)

Defisit Anggaran dan Utang LN Oleh: Khairunnisa Musari Pemerintah berencana meningkatkan nilai utang program sebesar Rp 4,7 triliun menjadi Rp 23,7 triliun atau sekitar USD 2,6 juta untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008. Dalam ekonomi normatif syariah, kebijakan defisit anggaran dan utang luar negeri (LN) yang hampir selalu diambil pemerintah Indonesia ini seharusnya menjadi perilaku yang dihindari. Kebijakan defisit anggaran memang kerap dilakukan pemerintah Indonesia. Pilihan kebijakan ini diambil dengan argumen untuk menjaga kebijakan fiskal agar sesuai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Pemerintah mendesain kebijakan defisit anggaran untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi. Cara umum yang diambil pemerintah untuk menambal defisit anggaran adalah menaikkan pajak, menambah pinjaman luar negeri, pinjaman program, atau pinjaman proyek. Dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2007, utang LN ditetapkan sebesar Rp 42,4 triliun atau bertambah Rp 2,1 trili...

Komentar untuk Merenungi Kasus BI

Ada alumnistan yang memberi komentar untuk artikel Merenungi Kasus BI yang dimuat di SINDO Sore, 19 Februari 2008: "Mudah-mudahan akhir dari kasus aliran dana BI ini spt kisah film A Few Good Men. Si Prajurit yg melaksanakan perintah "Red Code" dibebaskan dari sanksi pidana, namun tetap dipecat sbg prajurit (marinir). Krn bagaimanapun mrk sadar bahwa perintah "Red Code" tsb adalah perintah salah namun mrk tetap melaksanakan. Dan, akhirnya, Komandan yg memerintahkan lah yg diajukan ke pengadilan dan diputuskan salah. Semoga.....

MERENUNGI KASUS BI (Sindo Edisi Sore, Opini Sore, 19 Februari 2008)

Oleh: Khairunnisa Musari  “....Saya seperti pelanduk yang berada di tengah-tengah gajah bertarung. Saya tidak tahu siapa gajahnya. Saya hanya berharap si pelanduk tidak mati. Saya pasrah menanti usainya pertarungan. Semua terasa seperti mimpi....” Demikian ungkapan tersangka kasus aliran dana Bank Indonesia (BI) yang ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 14 Februari lalu. Saya memahami kegundahan, kesedihan, dan kekecewaan yang dirasakannya. Komitmen untuk menjaga profesionalitas ternyata berbuah duka. Terungkap sedihnya saat mengharap dukungan, tapi hampir semua mengangkat tangan. Semua menghindar. Kawan, bagai tak kenal. Yang diteladani bergeming, tak ingin diusik. Banyak yang ingkar. Saya tahu, dia ingin berteriak, “Mengapa saya diperlakukan seperti ini? Mengapa harus saya yang mempertanggungjawabkan semua ini?” Banyak yang bisa direnungi dari kasus BI ini. Betapa pada gagahnya sebuah lembaga negara, ada sisi rentannya. Betapa terlihat besar independensi yang m...