Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cokelat

Kakao dan Cokelat Unggulan Jember (Perspektif, Jawa Pos Radar Jember, 16 September 2013, Hlm. 25)

Gambar
Terimakasih Madha dah dikirimin foto artikel koran dengan gambar yang lebih baik :-) Judul Asli: Menggagas Kakao dan Cokelat sebagai Komoditas Unggulan Jember, Mungkinkah? Oleh: Khairunnisa Musari Bukan tiba-tiba jika saya ingin kembali menulis tentang kakao dan cokelat. Sejak lebaran kemarin, kakao dan cokelat memang sudah membayangi isi kepala saya untuk dituangkan dalam tulisan. Berawal dari hadiah parsel kue dari Dokter Dita, seorang Spesialis Kandungan, yang berupa kurma isi mente berlapis cokelat kepada suami saya. Tak lama berselang, Dokter Rini, seorang Spesialis Patologi Klinis, yang juga bersuamikan Dokter Hasan, seorang Spesialis Tulang, kembali memberikan 3 kotak tempat makan plastik yang masing-masing berisikan cokelat dengan varian berbeda untuk putri-putri saya.   Setelah itu, lagi-lagi kami memperoleh hadiah cokelat. Kali ini dari sahabat saya Madha Yudi, seorang pegawai di Inspektorat Kabupaten Jember, yang mengirimkan setoples cokelat buatan Pu...

BELAJAR KAKAO DARI BLITAR: APA KABAR PENGGIAT KAKAO JEMBER? (Radar Jember, Perspektif, 12 November 2012)

Gambar
Oleh: Khairunnisa Musari* Akhir pekan lalu, saya kedatangan tamu istimewa. Ketika Simposium Kakao Nasional di Padang selama lima hari tengah berlangsung, saya memperoleh kabar bahwa Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) Pusat ingin berkunjung ke Lumajang untuk menemui saya. Wah, kabar ini tentu mengejutkan. Selain karena saya memang tidak mengenal sosok sang ketua, saya juga tidak tahu apa yang beliau ingin sampaikan hingga jauh-jauh dari Padang mengupayakan mampir ke Lumajang untuk menemui saya. Sesuai waktu yang disepakati, akhirnya saya bertemu Ketua APKAI. Setelah berkenalan, saya langsung menanyakan mengapa Pak Arif Zamroni, namanya, tiba-tiba ingin menemui saya. Akhirnya berceritalah beliau. Semua bermula dari seorang sahabatnya yang mengalami kebangkrutan. Namun, berkat pohon kakao yang saat itu tumbuh liar di halaman rumahnya, sahabat Pak Arif secara bertahap dapat memulihkan perekonomian keluarga. Bahkan, sang sahabat, kini telah dapat menjadikan pohon kak...

DAYA SAING KAKAO (Judul Asli: CHOCOLATE FROM JEMBER (2), Radar Jember, Perspektif, 25 September 2010)

Oleh: Khairunnisa Musari Tulisan bersambung ini masih bicara tentang cokelat. Juga tentu saja tentang kakao. Sekedar flash-back, tulisan ini bermula dari sahabat keluarga yang bernama Om Bagyo yang memberi budget hadiah untuk Naj, anak saya yang kedua. Dengan budget yang ada, saya membelikan Naj bermacam-macam camilan, makanan, dan minuman. Salah satunya yang pasti tidak boleh ketinggalan adalah cokelat. Ketika mencicipi cokelat, suami menyeletuk tentang bahan baku cokelat impor tersebut yang mungkin saja berasal dari Jember. Singkat cerita, cokelat sesungguhnya juga bisa menjadi ikon kota suwar-suwir ini. Keberadaan Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka)-lah yang menjadikan Jember layak untuk menjadi pelaku utama dalam industri kakao nasional. Dari sisi pasokan, mengacu pada Statistik Perkebunan Indonesia (2006-2008), kemampuan produksi Jember pada 2006 sebanyak 5.977 ton dengan lahan yang sudah digunakan seluas 5.013 ha. Sedangkan Bondowoso berkemampuan produksi sebanyak 225 to...

CHOCOLATE FROM JEMBER (1) - (Radar Jember, Perspektif, 14 September 2010)

Oleh: Khairunnisa Musari* Lebaran kemarin hampir bersamaan dengan ultah Naj, anak saya yang kedua. Seorang sahabat di Surabaya memberikan saya budget untuk berbelanja apa saja yang menjadi kesukaan Naj sebagai hadiah ultah. Saya katakan, hadiah yang paling bisa berkesan dan menyenangkan Naj adalah makanan. Sebab, Naj belum bisa menghargai pemberian dalam bentuk materi yang lain selain makanan. Akhirul kalam, saya membelikan camilan, susu kotak instan rasa coklat, dan tentu saja cokelat itu sendiri sebagai hadiah ultah beratasnamakan Om Bagyo. Ya, anak-anak saya biasa memanggilnya Om Bagyo. Mereka bersahabat dan cukup rutin berkomunikasi via SMS. Nau, anak saya yang sulung, pun ikut kecipratan dan mendapat jatah hadiah dari budget yang diberikan Om Bagyo. Ketika anak-anak menikmati cokelat batangan, suami saya memperhatikan label yang tertera di pembungkus cokelat tersebut. Ia kemudian menyeletuk, “Jangan-jangan cokelat impor ini sebenarnya bahan bakunya dari Jember. Kualitas cok...